Teori Produksi #TugasKuliah #RukIndarLia
Teori
Produksi
A.
Perilaku
Produsen
Perilaku produsen adalah pengguna
faktor-faktor produksi dan sebagai penghasil barang-barang kebutuhan konsumen (
Bangun; 2010; 73). Setiap manusia pasti mempunyai keinginan untuk mendapatkan
sesuatu yang mereka inginkan dan mereka juga mempunyai keinginan untuk
menghasilkan sesuatu, didalam ilmu ekonomi manusia seperti itu disebut sebagai
produsen. Sebagai seorang produsen, mereka diharuskan untuk bisa membuat atau
mengambil sebuah keputusan untuk kepentingan perusahaannya.
Semua perusahaan harus membuat beberapa
keputusan dasar untuk mencapai apa yang kita asumsikan sebagai tujuan utama
mereka yaitu keuntungan maksimum. Tiga keputusan yang harus diambil semua
perusahaan yaitu: (1). Beberapa keluaran (output) yang akan ditawarkan
(kuantitas produk); (2). Bagaimana memproduksi keluaran itu (teknik produksi
atau teknologi mana yang akan digunakan); (3). Dan masing-masing masukan
(input), berapa yang akan diminta. (case and fair; ;162 ).
Ketika seseorang berada dalam masalah,
seseorang tersebut harus mampu mnyelesaikan masalah tersebut. Begitu juga
dengan seorang produsen, jika seorang produsen tersebut berada dalam teori
ekonomi maka seseorang tersebut harus bisa mengambil keputusan, dan keputusan
itu dibagi atas dua macam keputusan, yaitu
:
a. Berapa output
yang harus diproduksi, dan
b. Berapa
dan dalam kombinasi bagaimana
faktor-faktor produksi ( atau input) dipergunakan. Asumsi dasar lainnya
adalah bahwa produsen beroperasi dalam pasar persaingan sempurna (Boediono;
2008; 63). Seorang produsen itu mempunyai beberapa kekuasaan dan seorang
produsen tersebut juga tidak mempunyai kekuasaan. Ketika seorang produsen
tersebut berada dalam pasar persaingan tidak
sempurna dan berada dalam pasar monopoli, maka produsen mempunyai kekuasaan untuk
menentukan harga outputnya, namun ketika
produsen tersebut berada dalam pasar persaingan sempurna, maka seorang produsen
tidak mempunyai kekuasaan untuk memepengaruhi pasar persaingan sempurna
tersebut, karena harga output (dan input) dalam pasar persaingan sempurna
ditentukan oleh pasar, bukan produsen.
Pilihan pertama dan terakhir dihubungkan
oleh pilihan kedua. Begitu perusahaan memutuskan berapa yang harus diproduksi,
cara memilih produksi menentukan syarat-syarat masukan (input) perusahaan itu.
Apabila perusahaan roti, memutuskan untuk memproduksi 10.000 roti bulan ini,
perusahaan akan mengetahui berapa pekerja produksi yang akan dibutuhkan. Berapa
banyak listrik yang akan digunakan, berapa tepung dan bahan lainnya yang perlu
dibeli, dan berapa mesin yang harus dijalankan.
Demikian pula, setelah ditentukan teknik
prokdusinya, setiap rangkaian jumlah masukan (input) menentukan jumlah keluaran
(output) yang dapat diproduksi. Tentu satu jumlah mesin dan pekerja yang
dipekerjakan dalam sebuah pabrik roti menentukan berapa banyak roti yang akan
diproduksi.
Mengubah teknologi produksi akan
mengubah hubungan antara jumlah masukan (input) dan jumlah keluaran (output). Perternakan sapi
perah yang menggunakan peralatan mahal untuk memerah susu sapi itu akan lebih
banyak dibandingkan memerah susu sapi menggunakan peralatan tradisional seperti
memerah menggunakan tangan pekerja dalam periode waktu tertentu disbanding
peternakan yang menggunakan cara tradisional yakni memerah dengan tangan.
Mungkin pula dua teknologi yang berbeda menghasilkan kuntitas keluaran (output)
yang sama. Misalnya, pabrik roti yang menggunakan peralatan canggih untuk
membuat roti menggunakan mesin canggih dengan hanya beberapa pekerja yang
menjalankan mesin-mesin boleh jadi memproduksi roti yang sama dengan jumlah
pabrik tanpa mesin canggih tetapi banyak pekerjanya. Perusahaan yang
memaksimalkan laba memilih teknologi yang meminimalkan biaya bagi tingkat
keluaran (output) tertentu.
Namun dalam kenyataannya perilaku
pengusaha, di mana mereka harus bisa memutuskan berbagai macam hal lain yang
mereka hadapi, misalnya: masalah hutang pihutang, operasional produksi, masalah
gaji perburuhan, dan hal-hal administratif lain yang menjadi beban tanggung
jawab seorang pengusaha dan mereka harus bisa mengambil keputusan atau jalan
tengah dari masalah tersebut. Karena dalam kenyataannya teori ekonomi memang
menyederhanakan. Namun macam-macam keputusan tadi memang sudah menjadi hakekat
dari keputusan yang harus diambil untuk setiap produsen.
B.
Fungsi
Produksi
Produksi yakni proses menggabungkan
masukan (input) dan mengubahnya menjadi keluaran (output). (Case and Fair; ; 160).
Produksi merupakan konsep arus (flow consept), konsep yang menyatakan
tentang kegiatan produksi, dalam konsep ini bahwa kegiatan produksi dapat diukur
dari jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan
kualitas barang atau jasa yang dihasilkan dari kegiatan produksi tetap. Sedangkan
Proses Produksi dimulai dari input kemudian proses produksinya berlanjut ke
aktivitas Produksi, dan yang terakhir adalah output yaitu menghasilkan barang
dan jasa.
Setiap proses produksi mempunyai
landasan teknis, yang dalam teori
ekonomi disebut fungsi produksi. Fungsi
produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan antara
tingkat output dan tingkat (dan kombinasi) penggunaan input-input (Boediono;
2008; 64). Kegiatan produksi adalah mengkombinasi berbagai input atau masukan untuk
menghasilkan output ( Suhartati dan Fathorrozi; 2003; 77). Hubungan teknis
antara input dan output tersebut dalam bentuk persamaan, tabel atau grafik
merupakan fungsi produksi ( Salvatore; 1994; 147). Fungsi produksi adalah suatu
persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan
kombinasi input tertentu (Ferguson dan Gould; 1975; 1975). Fungsi Produksi
yaitu Rumus numeric atau matematik tentang hubungan antara masukan (input)
dengan keluaran (output). Rumus itu menunjukkan unit produk total sebagai
fungsi dari masukan (input). (Case and Fair; ; 169).
The various ways inputs can be transformed
into output are summarized in the production function: the relationship between
the quantities of inputs used and the maximum quantity of output that can be
produced, given current knowledge about technology and organization. ( Perloff; 2004; 151).
Fungsi produksi untuk setiap komoditi
adalah suatu persamaan, tabel, atau grafik yang menunjukkan jumlah (maksimum)
komoditi yang dapat diproduksi per unit waktu bagi setiap kombinasi input
alternatif, bila menggunakan teknik produksi terbaik yang tersedia (Salvatore;
2006; 93).
Fungsi produksi juga menetapkan jika
suatu perusahaan tidak bisa mencapai output yang tinggi tanpa menggunakan input
yang lebih banyak, dan perusahaan tersebut juga tidak akan bisa menggunakan
input yang sedikit tanpa mengurangi tingkat suatu output.
Faktor-faktor produksi adalah
faktor-faktor yang digunakan dalam proses produksi (Pindyk; 2010; 211). Hubungan
di antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya dinamakan
fungsi produksi (Sukirno; 2005; 193). Ada beberapa macam faktor produksi, dan faktor-faktor
produksi tersebut dapat kita bagi menjadi empat golongan, yaitu tenaga kerja,
tanah, modal dan keahlian keusahawaan. Empat faktor produksi tersebut dikenal
juga dengan istilah input, sedangkan
jumlah produksi yang diciptakan oleh faktor-faktor produksi disebut dengan
istilah output. Dari pernyataan di
atas maka dapat terjadi hubungan fungsi produksi yang dapat dinyatakan dalam
persamaan sebagai berikut:
Q=
f (K, L, R, T) (Bangun;
2010; 75)
Dari rumus tersebut dapat kita ambil
keterangannya, yaitu : Q adalah jumlah produksi yang dihasilkan, sedangkan K
adalah jumlah modal, L adalah jumlah tenaga kerja, R adalah sumber daya alam, dan
T adalah tingkat teknologi. Kemudian maksud dari persamaan di atas adalah apa
saja bentuknya, berapa jumlahnya, bagaimaan kondisinya suatu barang yang
dihasilkan tersebut akan tergantung dari inputnya
(jumlah modal, jumlah tenaga kerja, jumlah sumberdaya dan tingkat teknologi
yang digunakan). jadi, apabila jumlah inputnya
naik, maka jumlah outputnya juga ikut
naik mengikuti jumlah inputnya, atau
bisa jadi sebaliknya jika jumlah inputnya
menurun, maka jumlah outputnya juga
akan ikut menurun mengikuti jumlah outputnya,
jadi antara input dan output saling berhubungan dan
memepengaruhi satu sama lain.
Pada dasarnya fungsi produksi itu berada
diantara dua masalah, yaitu antara kelangkaan dan tindakan ekonomi. Kelangkaan
yang dimaksud disini ialah kelangkaan yang dapat menyebabakan terjadinya suatu
masalah ekonomi, sedangkan tindakan ekonomi yang dimaksud disini ialah sebagai
suatu upaya untuk memecahkan kelangkaan ekonomi tersebut. Seperti yang sudah
kita ketahui bahwa masalah ekonomi tersebut dapat terjadi akibat dari kebutuhan
manusia yang tidak terbatas disamping itu alat pemuas kebutuhan manusia tersebut
sulit ditemukan dan jumlahnya sedikit. Dengan munculnya suatu masalah yang
seperti ini maka terjadi sebuah tindakan untuk mengatasi masalah tersebut,
yaitu tindakan yang diharapkan berguna untuk
bisa menentukan macam-macam alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan manusia yang tidak terbatas tersebut.
Sumber : Suhartati dan Fathorrozi; 2003; 100
Gambar : Skema perkembangan fungsi produksi
|
Berdasarkan skema di atas terlihat jelas
bahwa kebutuhan manusia yang tidak pernah ada batasnya sedangkan alat pemuas
kebutuhsn manusia tersebut yang hanya sedikit jumlahnya dan sulit didapatkan
sehingga masalah tersebut dapat menyebankan adanya kelangkaan (scarcity). Akibat dari kelangkaan yang
terjadi tadi maka membuat manusia membuka mata atas bagaimana cara yang tepat
untuk memanfaatkan input yang jumlamnya langka supaya tetap bisa dimanfaatkan
dan menghasilkan output yang jumlahnya optimal. Untuk hal seperti itu maka
fungsi produksi memberikan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menyederhanakannya.
Fungsi produksi yang sederhana dapat ditulis sebagai berikut:
Q
= f(K , L) (Suhartati
dan Fathorrozi; 2003; 100)
Persamaan diatas dapat kita pahami,
bahwa input yang begitu banyak jenisnya hanya diwakili oleh modal dan tenaga
kerja. Namun penyederhanaan tersebut bukan salah satu cara untuk meminimalisir
tetapi hanya untuk mempermudahkan kita menganalisis lebih lanjut.
Dari penjelasan tentang fungsi produksi
yang sederhana tadi maka kita akan memperoleh suatu gambaran tentang bagaimana
keterikatan yang terjadi antar-input dan
hubungan input-output. Dibawah ini adalah keterikatan antar-input yang dapat
diungkapkan sebagai berikut:
a. Intensitas
faktor produksi
Intensitas faktor produksi adalah kata
lain dari input mana yang lebih dominan daripada input lainnya dalam proses
produksi (Suhartati dan Fathorrozi;
2003; 101). Apabila input yang dimanfaatkan dalam proses produksi yang
sedang berlangsung hanya memanfaatkan modal dan tenaga kerja maka akan terjadi dua
kemungkinan, yaitu suatu proses produksi yang mempunyai sifat kepadatan modal (
capital intensive ) atau proses
produksi yang mempunyai sifat kepadatan tenaga kerja ( labor intensive ). Untuk di Negara yang sedang berkembang seperti
di Indonesia ini maka banyak diharapkan dari pihak sektor industri mampu menciptakan
dan memberikan lapangan kerja yang lebih luas dan memadai. Hal ini memberitahu
bahwa proses produksi di Negara yang sedang berkembang diinginkan lebih
bersifat padat tenaga kerja daripada bersifat padat modal.
b. Distribusi
pendapatan antar-input
Intensitas faktor produksi juga dapat
memberitahu tentang bagaimana distribusi pendapatan antar-input. Hal ini dapat
terjadi apabila dalam proses produksi lebih condong ke sifat padat modal daripada
padat tenaga kerja maka keuntungan dari hasil perkembangan produksi akan dapat dinikmati
oleh pemilik modal saja, namun jika sebaliknya bila dalam proses produksi tersebut
lebih domonan ke sifat padat tenaga kerja daripada padat modal maka tenaga
kerja akan lebih banyak menikmati keuntungan dari hasil perkembangan pendapatan
distribusi daripada pemilik modal.
c. Substitusi
antar-faktor produksi
Substitusi antar-faktor produksi
merupakan kesediaan satu faktor produksi yang posisi satu faktor produksi
tersebut bisa ditukar dengan faktor produksi lainnya. Dengan kata lain,
substitusi antar-faktor produksi tadi merupakan nisbah / rasio antar-faktor
produksi. Dengan mengetahui adanya ratio ini, maka dapat diketahui pula berapa jumlah
unit satu input yang dapat digantikan oleh input yang lain.
d. Elastisitas
substitusi
Fungsi dari elastisitas substitusi yang
dapat kita peroleh ialah bahwa elastisitas substitusi merupakan suatu gambaran
kemudahan substitusi antar-faktor produksi yang dapat dilakukan. Parameter ini
sangat penting untuk dipelajari karena msih belum ada kepastian, apakah proses
produksi yang lebih condong pada padat modal dapat dilakukan substitusi
antar-faktor produksi secara mudah, atau malah sebaliknya justru proses
produksi yang bersifat padat tenaga kerja yang lebih gampang untuk dilakukan substitusi
antar-faktor produksinya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chu-Chia
S. Lin 91995) di Taiwan dan China maka dapat diambil kesimpulan bahwa
perusahaan yang mempunyai sifat lebih dominan pada padat tenaga kerja ( labor intensive ) maka perusahaan
tersebut lebih gampang mensubstitusikan antar-faktor produksinya daripada
perusahaan yang bersifat padat modal ( capital
intensive ). Namun disisi lain ada perbedaan pendapat, seperti penelitian
Syahrudin (1986) yang berasal dari Indonesia, beliau berpendapat bahwa sebuah
industri yang berkapasitas sedang dan industri berkapasitas besar yang berada di Indonesia lebih dominan bersifat
padat modal ( capital intensive )
daripada padat tenaga kerja ( labor
intensive ), dan substitusi modal terhadap tenaga kerja yang dapat
dilakukan. Jadi, dimanapun tempat dan waktu yang sedang berlangsung maka juga berbeda
pula kesimpulan yang muncul.
Selain hubungan antar-input, ada
juga analisis yang dapat dibangun dari hubungan antara input dengan output lain
yang dapat diungkapkan sebagai berikut:
a. Analisis
Marginal Physical Product ( MPP)
Marginal
Physical Product menjelaskan tentang pertambahan dari output
yang akan mengakibatkan bertambah pula satu satuan input. Selain itu kelebihan
dari Marginal Physical Product ini ialah
juga berguna sebagai penjelasan bagaimana tahapan-tahapan yang ekonomis yang
dapat digunakan untuk berproduksi, dan beberapa banyak tahapan-tahapan yang seharusnua
tidak dilakukan oleh seorang produsen dalam melakukan kegiatan berproduksi.
b. Elastisitas
produksi
Kegunaan daei elastisitas produksi ini yaitu
berguna menjabarkan tentang bagaimana persentase yang mengalami perubahan yang
dialami output sebagai akibat dari persentase perubahan input. Perbandingan
elastisitas produksi antar-input akan menjelaskan tentang input mana yang lebih
elastis dibandingkan dengan input lainnya.
c. Hasil
atas sekala ( return to scale )
Hasil atas skala menjelaskan tentang
sejauh mana output dalam merespons perubahan input. Hasil atas skala ini juga
berhubungan dengan economies of scale,
yaitu pada increasing return to scale
akan diperoleh economies of scale
yang positif, sedangkan pada constant
return to scale maka economies of
scale sama dengan nol, dan pada decreasing
return to scale, pada perusahaan tidak akan memperoleh economies of scale, bahkan bisa jadi economies of scale akan bernilai negatif hal ini disebabkan karena
pertambahan output justru dapat meningkatkan biaya rata-ratadalam jangka
panjang.
d. Kombinasi
input yang menghasilkan output optimal
Dalam proses produksi agar menghasilkan
output yang optimal biasanya kombinasi input yang harus digunakan telah
tertentu, sehingga kombinasi input yang menyimpang dari kombinasi yang ideal
biasanya akan menyebabkan biaya lebih tinggi. Sedangkan pada kombinasi input
yang menghasilkan output yang optimal berarti biaya variabel menunjukkan angka
yang terendah.
1.
Fungsi
produksi jangka pendek
Jangka pendek adalah periode waktu
dimana jumlah satu atau lebih faktor produksi tidak dapat berubah (Pindyck;
2010; 212). Dua asumsi mendefinisikan Jangka Pendek yaitu skala produksinya
tetap (atau faktor produksinya tetap) dan tidak ada yang masuk dan keluar dari
industry itu. Jangka pendek periode waktu yang memenuhi dua syarat: perusahaan
itu beroperasi dengan skala produksi yang tetap (faktor produksi tetap), dan
perusahaan-perusahaan tidak dapat masuk atau pun keluar dari industry tertentu.
(Case and Fair; ; 166).
Fungsi produksi jangka pendek adalah
suatu fungsi produksi yang menunjukkan hubungan antara tingkat output dan
tingkat penggunaan input dimana skala produksi tersebut tidak dapat berubah
atau tetap.
Misalnya
sebuah industry rumahan yang memproduksi roti dengan satu alat pemanggang saja,
yang dapat dikerjakan oleh satu orang saja. Sebagaimana diperlihatkan table
1.1, satu orang pekerja secara sendirian hanya dapat menghasilkan 5 roti per
jam. Karena kedua pekerja itu bersama-sama maka menghasilkan 10 roti, pekerja yang
kedua dapat memproduksi 10-5= 5 roti per jam. Pegawai ketiga yang berusaha
menggunakan alat pemanggang membuat ruangan menjadi tambah sesak, tetapi
penggunaan alat pemanggang dengan secara hati-hati dapat menghasilkan lebih
banyak roti. Pekerja ketiga menambah 10 roti per jam. Perhatikan bahwa keluaran
(output) tambahan akan menurun dengan memperkerjakan pekerja kelima karena
keterbatasan modal, bukan karena pekerja kelima tidak begitu efisien atau
kurang keras bekerja. Kita mengasumsikan bahwa semua pekerja sama-sama
terampil.
TABEL
1.1. Fungsi Produksi
|
Unit
Tenaga Kerja
(Pekerja)
|
Total
Produk
(roti
per jam)
|
Produk
Marjinal Tenaga Kerja
|
Rata-rata
Produk Tenaga Kerja
|
|
0
1
2
3
4
5
|
0
5
10
20
25
25
|
-
5
5
10
15
0
|
-
5
5
7
6
5
|
GAMBAR 1.1. Fungsi
Produksi Untuk Roti
Fungsi Produksi adalah pernyataan
numeric hubungan antara masukan (input) dengan keluaran (output). Dalam gambar
1.1(a) total produk (roti) digambarkan sebagai fungsi dari masukan (input)
tenaga kerja. Produk marjinal tenaga kerja adalah keluaran (output) tambahan
yang dihasilkan oleh satu unit tenaga kerja tambahan. Gambar 1.1(b)
memperlihatkan bahwa produk marjinal unit tenaga kerja kedua pada industry
rumahan roti itu adalah 5 unit keluaran (output). Produk marjinal unit tenaga
kerja keempat adalah 15 unit keluaran (output).
Produksi
total, Produksi rata-rata, dan produksi marjinal
Produksi total adalah total produksi
yang dihasilkan oleh setiap pekerja. Seperti halnya contoh dalam tabel 1.1 satu
orang pekerja mampu menghasilkan 5 roti. Dalam tabel tersebut ditunjukkan dalam
kolom (2) mengalami pertambahan yang semakin cepat apabila tenaga kerja
ditambah dari 1 menjadi 2, dan 2 menjadi 3. Maka dalam keadaan ini kegiatan
produksi mencapai tahap pertama. Dalam tahap ini setiap tambahan tenaga kerja
menghasilkan tambahan produksi yang lebih besar dari yang dicapai pekerja
sebelumnya. Dalam analisis ekonomi keadaan seperti itu dinamakan produksi marjinal pekerja yang semakin
bertambah. Data dalam kolom (3) yaitu data produksi marjinal pada tahap
pertama, menggambarkan keadaan tersebut.
Apabila tenaga kerja ditambah dari 2
menjadi 3 dan kemudian 3 menjadi 4 produksi total bertambah, tetapi semakin
lama pertambahannya semakin sedikit. Maka dalam keadaan ini produksi mencapai
tahap kedua, yaitu keadaan dimana produksi
marjinal semakin berkurang. Maksudnya, setiap pertambahan pekerja akan
menghasilkan tambahan produksi kurang dari pada tambahan produksi pekerja
sebelumnya.
Pada tahap ketiga, pertambahan
tenaga kerja tidak akan menambah produksi total yaitu produksi total berkurang.
Pada waktu tenaga kerja bertambah dari 3 menjadi 4, produksi total masih
mengalami peningkatan yaitu sebanyak15 unit. Akan tetapi apabila satu lagi
tenaga kerja ditambah dari 4 menjadi 5 pekerja, produksi totalnya menurun.
Produksi total berkurang lebih lanjut apabila tenaga kerja menjadi 5.
n Fungsi
Produksi Total (Total Product): TP
TP ↔ Q = f(L, K); L = tenaga kerja, K = Modal
Marginal
Product of Labor. Before deciding whether to hire one
more worker, a manager wants to determine how much this extra worker, ΔL=1,
will increase output, Δq. That is, the manager wants to know the marginal
product (MP): the change in total output resulting from using an extra unit of
labor, holding other factors (capital) constant. If output changes by Δq when
the number of workers increases by ΔL, the change in output per worker is.
(153)
Produk
Marjinal adalah keluaran (output) tambahan yang dapat
diproduksi dengan menambah lagi satu unit input tertentu (cateris paribus)
dengan mempertahankan input-input lain tetap konstan.(Case and Fair,170)
Kolom (3) menunjukkan nilai produksi
marjinal yaitu tambahan produksi yang diakibatkan oleh pertambahan satu tenaga
kerja yang digunakan. (Sukirno,2005:197). Apabila ΔL adalah pertambahan tenaga
kerja, ΔTP adalah pertambahan produksi total, maka produksi marjinal (MP) dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
ΔL
Sebagai contoh perhitungan, perhatikan
keadaan yang berlaku apabila tenaga kerja bertambah dari 2 menjadi 3 orang.
Seperti pada tabel 1.1 menunjukkan bahwa produksi bertambah dari 10 menjadi 20
(lihat kolom 2), yaitu pertambahan sebanyak 10 orang (ditunjukkan dalam kolom
3). Pada tahap pertama produksi marjinal selalu menjadi bertambah besar.
Produksi marjinal sebanyak 5 pada waktu tenaga kerja bertambah dari 1 menjadi
2, dan produksi marjinal meningkat sebanyak 5 apabila tenaga kerja bertambah
dari 2 menjadi 3.
Pada tahap kedua produksi marjinal
semakin menurun besarnya. Ini berarti hukum hasil lebih yang semakin berkurang
mulai berlaku semenjak permulaan tahap kedua. Pada tahap ketiga produksi
marjinal adalah negative. (Sukirno,2005:197). Produk marjinal pekerja kelima
adalah 0. Gambar 1.1.b menggambarkan produk marjinal kurva pekerja dari data
dalam tabel 1.1.
Hukum hasil yang menurun (law of the
diminishing returns) mengatakan bahwa setelah titik tertentu, apabila unit-unit
tambahan masukan (input) variable ditambahkan kemasukan (input) tetap (dalam
hal ini gedung dan alat pemanggang) produk marjinal masukan (input) variabel
tersebut (dalam hal ini, tenaga kerja)
akan menurun. Ekonom inggris David Ricardo adalah orang yang pertama kali
merumuskan hukum hasil yang menurun berdasarkan pengamatannya terhadap bidang
pertanian inggris abad ke-19. (Case and Fair, 170)
Produk
rata-rata
Average Product of Labor.
To answer this question, the firm determines how extra workers affect the average product of labor (AP): the
ratio of output to the number of workers used to produce that output.( jeffrey m.perloff,2004:154)
Produk rata-rata adalah jumlah rata-rata
yang dihasilkan oleh masing-masing unit faktor produksi variabel. (Case and
Fair, 171) produksi yang secara
rata-rata bisa dihasilkan oleh setiap pekerja, ditunjukkan dalam kolom (4).
Apabila produksi total adalah TP, jumlah tenaga kerja adalah L, maka produksi
rata-rata (AP) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
L
Ketika tenaga kerja yang digunakan
adalah 2 orang, produksi total adalah 10. Dengan demikian produksi rata-rata
adalah 10/2 = 5. Angka-angka dalam kolom (4) menunjukkan bahwa dalam tahap
pertama jumlah produksi rata-rata semakin bertambah besar. Apabila 2 pekerja
saja digunakan, seperti telah ditunjukkan diatas, produk diatas, produk
produksi rata-rata hanya 5. Produksi rata-rata mencapai jumlah yang paling
tinggi pada waktu jumlah tenaga kerja adalah 3 dan 4, yaitu pada permulaan
tahap kedua (atau pada batas tahap pertama dan tahap kedua). Jumlah produksi
rata-rata yang paling tinggi ini adalah 7. Sesudah tahap ini produksi rata-rata
semakin lama semakin kecil jumlahnya.
Bentuk – Bentuk Fungsi
Produksi
Ada tiga bentuk fungsi produksi, yaitu
fungsi produksi Leontief, fungsi produksi Cobb Douglas, dan fungsi produksi CES
( Constant Elaticity of Substitution)
dan penjabarannya sebagai berikut:
1.
Fungsi
Produksi Leontief
Bentuk fungsi produksi yang pertama ini
yaitu bentuk fungsi produksi Leontief. Bentuk fungsi produksi ini diambil dari
nama belakang orang yang telah memperkaryakan fungsi ini untuk yang pertama
kalinya yaitu Wasilly Leontief pada tahun 1941. Dan telah lahir seorang ilmuan
bernama Wasilly Leontief di Leningrad pada tahun 1906 dan beliau juga
mamanfatkan sebagian ilmunya dengan beliau berjasa sebagai guru besar di
Universitas Harvard.
Fungsi Leontief ini biasa dimanfaatkan untuk
menganalisis input-output, maka dari itu fungsi ini sering dikenal sebagai
fungsi produksi input-output. Fungsi produksi ini dapat dinyatakan dalam
persamaan, sebagai berikut:
Keterangan:
q = input
Q = output
a.
Marginal
Product
Keterkaitan yang terjadi antara input
dengan output dapat dinyatakan dengan suatu konstanta (
), karena keterkaitan
tersebut dinyatakan dengan konstanta maka yang terjadi dalam fungsi produksi
Leontief, ialah nilai produktivitas fisik marjinal ( Marginal Product ) tidak
dapat ditentukan. Maka dari itu keadaan seperti ini menjadi salah satu
kelemahan dari fungsi produksi Leontief.
b.
Substitusi
Antar-Faktor
Selain kelemahan fungsi produksi
Leontief yang tidak dapat menentukan Marginal
Product, ada satu hal lagi kelemahan fungsi produksi Leontief yaitu substitusi antar-faktor produksi tidak
ada, jadi hanya mempunyai satu kombinasi. Akibat dari keadaan ini adalah
apabila input serentak dinaikkan maka tingkat perkembangan outputnya bersifat
konstan ( sesuai dengan kenaikkan inputnya ). Maksudnya yaitu meningkatnya
input tidak akan mengubah kombinasi input, hanya saja akan terjadi peningkatan
output. Dengan demikian, bentuk isoquant
fungsi produksi Leontief ini berbentuk siku-siku. Dan isoquant yang berbentuk siku-siku ini menggambarkan tidak adanya
substitusi antar-faktor yang digunakan. Dengan begitu semakin jalas mengapa
dalam proses fungsi produksi Leontief tidak dapat dilakukan substitusi
antar-faktor yang digunakan dalam proses produksinya. Maka dari itu, biasanya
fungsi produksi ini disebut dengan fixed
proportion, yang berarti bahwa hubungan antara input dengan output hanya
dapat tercipta dengan adanya kombinasi yang unik dari input.
Beberapa kelemahan yang ada pada fungsi
produksi inilah yang menyebabkan para pakar ekonomi berusaha untuk memikirkan
bentuk fungsi produksi yang baru, namun bukan berarti fungsi produksi Leontief
ini tidak pernah dipergunakan lagi, bahkan bentuk fungsi produksi Leontief
telah dipakai di Negara-negara yang menganut pasar bebas maupaun di Negara yang
menganut perencanaan ekonomi.
2. Fungsi Produksi Cobb-Douglas
Selain fungsi produksi di atas, ada juga
fungsi produksi lain yang mempunyai bentuk isoquant
yang ekstrim yaitu fungsi produksi Cobb-Douglas.
Fungsi produksi Cobb-Douglas
adalah fungsi produksi yang paling sering digunakan dalam penelitian empiris
(Salvatore; 2006; 116). Fungsi produksi ini menjadi terkenal berkat Cobb, C.W
dan Douglas, P.H. pada tahun 1928 memperkenalkannya melalui artikelnya yang
berjudul “A Theory of Production”.
Artikel ini dimuat pertama kalinya di majalah ilmiah American Economic Review 18 ( Suplement ), halaman 139-165
(Soekartawi; 1994; 159). Sacara metematis fungsi ini dapat dinyatakan dalam
persamaan, sebagai berikut:
Q
= A
atau Q = A
(Suhartati
dan Fathorrozi; 2003; 104)
Keterangan: Q = output
A
= parameter efisiensi / koefisien teknologi
L
= input tenaga kerja
K
= input modal
Semakin besar nilai A, maka teknologi
yang dihasilkan semakin maju, jadi nilai A mempengaruhi maju atau tidaknya
teknologi. Parameter
mengukur presentase kenaikan Q akibat adanya
kenaikan satu persen L, sementara K dipertahankan konstan. Sedangkan
mengukur presentase kanaikan Q akibat adanya
kenaikan satu persen K, sementara L dipertanankan konstan. Jadi,
dan
merupakan elastisitas output dari L dan K.
Contoh
soal:
Jika, A = 20 dan
=
=
½, maka diperoleh persamaan :
Q
= 20
Karena
+
=
1, maka fungsi ini menunjukkan hasil yang konstan atas skala produksi, sehingga
isokuannya memiliki rentang yang sama dan pararel sepanjang alur ekspansi,
yaitu garis lurus yang ditarik dari titik nol.
a.
Cara
Memperoleh Fungsi C-D
Fungsi produksi Cobb Douglas dapat
diperoleh dengan membuat linier persamaan diatas sehingga menjadi:
LnQ = LnA +
Ln +
LnL +
Dari persamaan diatas maka secara mudah
akan diperoleh parameter efisiensi (A) dan elastisitas inputnya. Inilah salah
satu dari kemudahaan fungsi produksi Cobb Douglas yaitu
secara mudah dapat dibuat secara linier sehingga memudahkan untuk
mendapatkannya.
b.
Marginal
Physical Product
Marginal Physical Product adalah
perubahan output sebagai akibat dari perubahan satu satuan input yang diperoleh
melalui turunan pertama dari fungsi produksi yang telah terbentuk, yaitu dQ/dK.
Apabila fungsi yang dimaksud adalah:
Q = A
c.
Substitusi
Antar-Faktor
Penjumlahan dari elastisitas substitusi
ini menggambarkan return to scale,
yang dimaksud return to scale ialah
apabila
+
=
1, maka terjadi penambahan hasil yang konstan atas skala produksi (constant return to scale); jika
+
> 1, maka terjadi peningkatan hasil atas
sekala produksi (increasing return to
scale) ; dan jika
+
< 1, maka terjadi penurunan hasil atas
skala produksi (decreasing return to
scale). Apablia inputnya dinaikkan
dua kali lipat maka akan terjadi seperti dibawah ini:
Bila
+
=
1, maka
=
2
, sehingga berlaku constant return to scale
Dalam fungsi produksi Cobb Douglas asli
berlaku constant return to scale
(Nicholson, 1995, hal: 332). Sehingga dapat mengilustrasikan secara mudah
perubahan output sebagai akibat dari perubahan input. Apabila input dinaikkan
sebesar dua kali maka output juga akan naik sebesar dua kali.
Karena dalam fungsi produksi Cobb Dougla
asli berlaku constant return to scale, hal
tersebut dapat dibuktikan dangan cara sebagai berikut:
Contoh:
Q = 2
.
Maka:
= dQ/dL
=
.
Sehingga
MRTS =
/
=
K/L
Sehingga
rumus elastisitas substitusinya adalah:
% perubahan (
) d (
) / (
)
% perubahan MRTS d (MRTS) / ( MRTS)
Karena
MRTS = K/L, maka elastisitas
substitusinya menjadi:
d (
) / (
)
d (
) / (
)
Karena nilai elastisitas substitusinya
sama dengan satu, maka substitusi antar-faktor produksinya adalah substitusi
sempurna, maksudnya adalah satu unit input L dapat digantikan dengan satu unit
input K. Dengan keadaan seperti ini, maka fungsi produksi Cobb Douglas
mempunyai bentuk isoquant linier.
|
K
L
|
Gambar Isoquant Fungsi Produksi Cobb Douglas
d.
Kemudahan
Fungsi Produksi Cobb Douglas
Menurut Soekartawi ( 1994, hal: 173), ada
tiga alasan pkok mengapa fungsi produksi Cobb Douglas yang banyak dipakai oleh
para peneliti, yaitu:
1. Penyelasaian
fungsi produksi Cobb Douglas relatif mudah dibandingkan dengan fungsi yang
lain, misalnya lebih mudah ditransef dalam bentuk linier.
2. Hasil
pendugaan garis melalui fungsi produksi Cobb Douglas akan menghasilkan
koefisien regresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastisitas.
3.
Besaran elastisitas tersebut sekaligus
menunjukkan tingakat besaran return to
scale.
Selain pendapat di atas, ada pendapat
lain dari Yuyun Wirasasmita (1998, hal: 12) bahwa dengan menggunakan fungsi
produksi Cobb Douglas dapat diketahui beberapa hal yang sangat penting, antara
lain sebagai berikut:
1. Marginal Physycal Product
dari masing-masing faktor input, yaitu perubahan pada output sebagai akibat perubahan-perubahan
pada input. Pemahaman tentang Marginal
Physycal Product penting untuk mengetahui produktivitas masing-masing
faktor input.
2. Elastisitas
output dari masing-masing faktor input, yaitu perubahan persentase dari output
sebagai akibat perubahan persentase dari faktor input.
3. Bagian
dari faktor input, yaitu tenaga kerja dan modal dapat diketahui. Dengan
pengetahuan mengenai bagian-bagian dari input juga kita dapat mengetahui sejauh
mana suatu proses perubahan bersifat padat kerja atau padat modal.
Pernyataan Theorema Euler pertama
mengatakan bahwa suatu fungsi dapat dikatakan homogeny pada saat derajat 1 dan
apabila penggandaan setiap masukan produksi k maka akan menghasilkan atau dapa
meningkatkan produksi sebesar
.
Apabila
input fungsi produksi Cobb Dauglas dinaikkan sebesar k kali lipat maka:
Jadi
,
=
+
, maka:
1. Apabila
=
1 , maka fungsi produksi Cobb Dauglas adalah fingsi produksi homogen berderajat
1.
2. Apabila
=
0 , maka fungsi produksi Cobb Dauglas adalah fingsi produksi homogen berderajat
0.
3. Apabila
=
n , maka fungsi produksi Cobb Dauglas adalah fingsi produksi homogen berderajat
n.
Pernyataan Theorema Euler yang kedua
ialah apabila penggandaan faktor produksi tersebut terjadi dengan produksi
marjinalnya, maka akan menghasilkan sejumlah produksi yang akan digandakan
dengan besarnya homogenitas yang sama dengan
. Pernyataan tersebut dapat ditulis
sebagai berikut:
(dQ/dK)
. K + (dQ/dL) . L = .
Q Atau
.
K +
. L =
. Q
Di
dalam fungsi Cobb Dauglas besarnya homogenitas sama denagn satu (
+
=
1). Maka dari itu pernyataan Euler tersebut dapat ditulis kembali menjadi
sebagai berikut:
Dari pernyataan diatas dapat diambil
penjelaskan tahapan-tahapan yang sudah dijelaskan tentang fungsi produksi satu
input variabel. Yaitu apabila nilai
=
0, dan nilai tersebut disubstitusikan denagn persamaan
.
K +
. L =
Q maka dapat menghasilkan nilai seperti ini Q = L.
, sehingga Q/L =
. Jadi, pada saat nilai
=
0, maka nilai
=
. Sebaliknya apabila nilai
= 0 dan disubstitusikan pada persamaan Q
= A
+
(1-
)
maka akan dihasilkan Q = K.
, sehingga dapat dihasilkan rumus sebagai
berikut Q/K =
, atau
=
.
Dan
apabila Theorema Euler ini ditulis kembali sebagai berikut:
kemudian
dibagi dengan k, maka akan diperoleh sebagai berikut:
Dengan persamaan diatas dapat dijelaskan
bahwa apabila nilai
akan semakin kecil jika nilai tersebut
dapat diimbangi dengan nilai
yang semakin besar. Maka akan terjadi
juga sebaliknya, nilai
akan semakin besar jika nilai
semakin kecil. Jadi kesimpulan dari
persamaan diatas adalah:
1.
Apabila
=
0 maka
=
2. Apabila
= 0 maka
=
3. Nilai
akan terjadi semakin besar apabila nilai
semakin kecil
4. Nilai
akan terjadi semakin kecil apabila nilai
semakin besar
5. Apabila
>
maka nilai
negatif
6. Apabila
>
maka nilai
Hasil Atas Skala
Produksi
a.
Hasil
yang konstan atas skala produksi
Yang dimaksud dengan hasil yang konstan
atas skala produksi ialah jika semua jumlah faktor produksi dinaikkan dengan
jumlah proporsi tertentu, maka jumlah output yang akan dihasilkan juga akan
mengalami peningkatan dengan jumlah proporsi yang sama dengan jumlah faktor
produksi. Untuk lebih memahami, kita simak contoh berikut: jika jumlah tenaga
kerja maupun jumlah barang modal yang digunakan mengalami kenaikkan sebesar
25%, maka jumlah outputnya juga akan ikut naik sebesar 25%. Demikian juga
berlaku pada jumlah input, jika semua jumlah input dikurangi dengan jumlah
proporsi tertentu, maka jumlah output juga akan berkurang dengan jumlah
proporsi yang sama.
b.
Hasil
yang meningkat atas skala produksi ( increasing returns to scale )
Yang dimaksud dengan hasil yang
meningkat atas skala produksi ialah jika jumlah semua faktor produksi dinaikkan
dengan jumlah proporsi tertentu, maka jumlah output yang akan dihasilkan juga
akan mengalami peningkatan dengan jumlah proporsi yang lebih besar dari jumlah
faktor produksi. Untuk lebih memahami, kita simak contoh berikut: jika jumlah
tenaga kerja maupun jumlah barang modal yang digunakan dinaikkan sebesar 15%,
maka jumlah outputnya juga akan ikut naik meningkat lebih besar dari 15%. Disamping
itu, jika skala operasi yang digunakan lebih besar maka akan memungkinkan
penggunaan lebih banyak jumlah mesin khusus yang lebih produktif, yang kurang
memenuhi syarat bagi skala operasi yang lebih kecil.
c.
Hasil
yang menurun atas skala produksi
Maksud dari hasil yang menurun atas
skala produksi ialah apabila jumlah output bertambah dengan jumlah proporsi
yang lebih kecil dibandingka denagn kenaikkan semua jumlah inputnya, maka
terdapat hasil yang akan menurun atas skala produksi. Hal ini bisa terjadi jika
skala operasi mengalami kenaikkan, maka pengusaha mungkin aka mengalami
kesulitan dalam komunikasi dan akan semakin sukar dalam menjalankan
perusahaannya secara efektif.


0 komentar: