Rabu, 17 April 2013

0

Ruk Indarlia #TugasKuliah


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmuwan, ekonom dan detektif mempunyai banyak kesamaan: semuanya ingin menggambarkan apa yang sedang terjadi didunia sekeliling mereka. Untuk melakukannya, mereka mengandalkan kombinasi teori dan pengamatan. Mereka membangun teori dalam upaya menyelami apa yang sedang terjadi. Setelah mengembangkan teori, mereka kembali ke pengamatan yang lebih sistematik untuk mengevaluasi validitas teori. Hanya karena teori dan data sesuai dengan apa yang mereka rasakan, Mereka dapat memahami situasi itu.
            Makalah ini membahas jenis-jenis data yang digunakan untuk menciptakan dan menguji teori-teori makro. Sumber informasi paling jelas dari perekonomian adalah pengamatan. Ketika anda belanja anda melihat secepat apa harga meningkat. Ketika anda mencari pekerjaan, anda mengetahui apakah perusahaan membuka lowongan. Karena kita semua adalah bagian dari perekonomian, kita merasakan kondisi-kondisi ekonomi pada saat kita menjalani kehidupan. Pengamatan ini memberi kita petunjuk (clues) pertama tentang bagaimana perekonomian berjalan.
            Statistic ekonomi adalah sumber informasi yang lebih sistematik dan objektif. Pemerintah secara regular mensurvei rumah tangga dan perusahaan untuk mempelajari aktivitas ekonomi mereka, seberapa banyak penghasilan mereka, apa yang mereka beli, berapa harga yang mereka bayar, dan seterusnya. Dari survey ini, berbagai statistik dihitung yang meringkas kondisi perekonomian. Statistic ini digunakan oleh para ahli ekonomi untuk mempelajari perekonomian dan oleh para pengambil keputusan untuk mengawasi pembangunan ekonomi dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang tepat.
            Makalah ini memfokuskan ada 3 statistik ekonomi yang sering digunakan oleh para ahli ekonomi dan para pengambil keputusan. Produk domestic bruto (gross domestic product, GDP), menyatakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional pada output barang dan jasa. Indeks harga konsumen (consumer price indeks, CPI) mengukur tingkat harga.



B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan mengukur nilai aktivitas ekonomi?
2.      Bagaimana cara mengukur nilai aktivitas ekonomi?
3.      Bagaimana cara mengukur GDP?
4.      Apa perbedaan GDP nominal dan GDP riil?
5.      Apa saja manfaat yang diperoleh dari mengukur nilai aktivitas ekonomi?
6.      Apa yang dimaksud dengan biaya hidup?
7.      Apa yang dimaksud dengan Indeks Harga Konsumen?
8.      apa saja masalah-masalah dalam perhitungan biaya hidup?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui cara mengukur nilai aktivitas ekonomi.
2.      Mengetahui hal-hal yang meliputi mengukur nilai aktivitas ekonomi.
3.      Mengetahui cara perhitungan GDP.
4.      Mampu membedakan GDP nominal dan GDP riil.
5.      Mengetahui manfaat dari mengukur nilai aktifitas ekonomi.
6.      Mengetahui definisi dari biaya hidup.
7.      Mengetahui definisi dari Indeks Harga Konsumen.
8.      Mampu menganalisa masalah-masalah dalam perhitungan biaya hidup.








Pembahasan

1.      Mengukur Nilai Aktivitas Ekonomi
1.1. Produk Domestik Bruto ( PDB ) Gross national product
                Produk Domestik Bruto ( PDB ) adalah nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam perekonomian selama kurun waktu tertentu.
Tujuan PDB adalah meringkas aktivitas ekonomi dalam suatu nilai uang tertentu selama periode waktu tertentu, statistik ini biasannya dihitung oleh Biro Analisis Ekonomi setiap tiga bulan. Ada dua cara untuk melihat statistik ini:
1-      Dengan melihat PDB sebagai pendapatan total dari setiap orang di dalam perekonomian
2-      Dengan melihat PDB sebagai pengeluaran total atas output barang dan jasa perekonomian
1.2.Beberapa Kaidah Untuk Menghitung PDB
                Banyak variabel ekonomi untuk mengukur jumlah sesuatu dalam perekonomian riil, para ahli ekonomi membedakan dua jenis variabel jumlah.
Jenis Variabel Jumlah:
1.       Persediaan ( stock ) adalah jumlah yang di ukur pada titik waktu tertentu
2.       Aliran ( flow ) adalah jumlah yang di ukur perunit waktu.
1.3. PDB Riil Versus PDB Nominal
                Para ekonom menyebut nilai barang dan jasa yang diukur dengan harga berlaku sebagai PDB nominal. Sedangkan nilai barang dan jasa yang diukur dengan menggunakan harga konstan berlaku sebagai PDB riil, PDB riil menunjukkan apa yang akan terjadi terhadap pengeluaran atas output jika jumlah berubah tetapi harga tetap.
1.4. Deflator PDB
                Deflator PDB juga disebut dengan deflator harga implisit untuk PDB, didefinisikan sebagai rasio PDB nominal terhadap PDB riil:
Deflator PDB = PDB Nominal/PDB Riil

Deflator PDB mencerminkan apa yang sedang terjadi pada seluruh tingkat harga dalam perekonomian


1.5. UKURAN RANTAI-TERTIMBANG PDB RIIL
Kita telah membahas PDB riil dengan asumsi penyederhanaan bahwa harga yang digunakan untuk menghitung ukuran ini tidak pernah berubah dari nilai tahun dasarnya. Jika memang demikian halnya, maka semakin lama harga yang digunakan akan semakin ketinggalan jaman.
PDB riil seolah-olah sebagai ukuran harga yang tidak pernah berubah-ubah dari nilai tahun dasarnya, namun sangat tidak tepat bila menilai produksi suatu barang dan jasa dengan menggunakan harga yang diberlakukan 10 atau 20 tahun yang lalu. Untuk memecahkan masalah ini Biro Analisi Ekonomi biasa memperbaharui secara periodic harga-harga yang digunakan untuk menghitung PDB riil ini, kira-kira setiap 5 tahun, tahun dasar yang dipilih.
Contoh: Harga computer turun secara dramatis,sementara uang kuliah naik. Ketika menilai produksi computer dan pendidikan,tidak tepat bila kita menggunakan harga yang diberlakukan sepuluh tahun atau dua puluh tahun yang lalu
Untuk memecahkan masalah ini,setiap 5 tahun,biro analisis Ekonomi biasa memperbarui secara periodik harga yg digunakan untuk menghitung PDB riil.

1.6. KOMPONEN-KOMPONEN PENGELUARAN
Pos pendapatan nasional membagi PDB menjadi 4 kelompok pengeluaran:
  1. Konsumsi (C)
  2. Investasi (I)
  3. Pembelian pemerintah (G)
  4. Ekspor neto (NX)
Jadi,dengan menggunakan symbol Y untuk PDB,
Y =  C+G+I+NX
Konsumsi = terdiri dari barang dan jasa yang dibeli rumah tangga
Investasi = terdiri dari barang-barang yang dibeli untuk penggunaan masa depan
Pembelian pemerintah = barang dan jasa yang d beli oleh pemerintah pusat
Ekspor neto = memperhitungkan perdagangan dengan negara lain
1.7. UKURAN-UKURAN PENDAPATAN LAIN
Pendapatan nasional mencakup ukuran-ukuran pendapatan lain yang agak berbeda dari PDB. Penting untuk memahami berbagai ukuran karena para ekonom dan media sering memakainya sebagai acuan.
Untuk melihat ukuran itu saling terkait, kita bisa mulai dengan PDB dan menambah atau mengurangi berbagai kuantitas. Untuk mendapatkan produk nasional bruto, kita menambah penerimaan dari pendapatan faktor produksi dari seluruh dunia dan mengurangi pembayaran dari pendapatan faktor keseluruh dunia:
GNP = PDB + pembayaran faktor dari mancanegara – pembayaran faktor ke mancanegara

Untuk mendapatkan produk nasional netto (Net National Product), kita mengurangi depresiasi modal jumlah persediaan pabrik, peralatan, dan struktur residensial perekonomian yang habis dipakai selama setahun:
NNP = GNP - Depresiasi



Untuk mendapatkan pendapatan nasional:
Pendapatan Nasional = NNP – pajak usaha tidak langsung

Pendapatan nasional mengukur berapa banyak pendapatan yang diperoleh setiap orang dalam perekonomian.
Pos pendapatan nasional membagi pendapatan nasional menjadi 5 komponen:
  1. Kompensasi pekerja (71,3%)
  2. Pendapatan perusahaan perseorangan (9,5%)
  3. Pendapatan sewa (1,4%)
  4. Laba korporasi (12,4%)
  5. Bunga neto (5,4%) 
Beberapa penyesuaian membawa kita dari pendapatan nasional ke pendapatan perseorangan, yaitu jumlah pendapatan yang diterima rumah tangga bisnis nonkooperasi
Pendapatan perseorangan = pendapatan nasional - laba korporasi - kontribusi asuransi sosial -bunga neto+dividen+transfer pemerintah pada individu+pendapatan bunga perseorangan

Untuk mendapatkan pendapatan perseorangan disposable:
Pendapatan perseorangan disposabel = pendapatan perseorangan - pembayaran pajak + nonpajak perseorangan

PENYESUAIAN MUSIMAN
Karena PDB riil dan ukuran pendapatan lain mencerminkan kualitas kinerja perekonomian, para ekonom tertarik untuk mempelajari fluktuasi kuartal demi kuartal dalam variable-variabel ini. Tetapi ketika kita mulai melakukannya, muncul sebuah fakta bahwa seluruh ukuran pendapatan ini menunjukkan pola musiman yang teratur. Output perekonomian meningkat selama setahun, mencapainya puncak dalam kuartal keempat (Oktober,November dan Desember), dan kemudian merosot dalam kuartal pertama (Januari,Februari,Maret) pada tahun berikutnya. Perubahan musim yang teratur ini sangat penting. Dari kuartal keempat kekuartal pertama, PDB riil menurun sebesar kira-kira 8%.
Ketika para ekonom mempelajari fluktuasi dalam PDB riil dan variable-variabel ekonomi lain,mereka seringkali ingin menghapus bagian dari fluktuasi yang disebabkan oleh perubahan musiman yang bisa diprediksi. Sebagian besar statistik ekonomi yang dilaporkan surat kabar disesuaikan menurut musim seasonally adjusted. Ini berarti bahwa data itu telah disesuaikan untuk menghilangkan fluktuasi musiman regular. Prosedur statistik yang digunakan terlalu rumit untuk disajikan di sini, tetapi pada dasarnya prosedur itu mengurangi perubahan pendapatan yang bisa diprediksi dengan mudah dari perubahan musim. Karena itu, ketika mengamati naik turunnya PDB riil atau serangkaian data lainnya, harus melihat hal-hal lain diluar siklus musiman sebagai penyebabnya.
1.8.Manfaat Mengukur Nilai Aktifitas Ekonomi
manfaat yang dapat diperoleh dari mempelajari Nilai Aktifitas Ekonomi. Adapun manfaat tersebut sebagai berikut:
a.  Dapat mengetahui/menelaah struktur ekonomi suatu negara.
b. Dapat membandingkan perekonomian suatu negara, masyarakat bahkan keluarga dari suatu waktu ke waktu lainnya.
c.  Dapat membandingkan perekonomian antardaerah.
d.  Dapat menghitung atau memperkirakan pendapatan pribadi atau keluarga dalam satu periode tertentu.



2.      Mengukur Biaya Hidup
Mengukur biaya hidup disebut juga dengan Indeks harga konsumen (consumer price index – CPI) merupakan suatu ukuran atas keseluruhan biaya pembelian barang dan jasa oleh rata-rata konsumen. Biro statistika tenaga kerja, yang merupakan bagian dari Departemen Tenaga Kerja, setiap bulannya menghitung dan melaporkan indeks harga konsumen. Pada bagian ini kita akan belajar menghitung indeks harga konsumen dan masalah-masalah yang muncul dalam perhitungannya. Kita juga akan melihat perbandingan indeks Ini dengan deflator PDB. Ukuran lain dari keseluruhan tingkat harga.
2.1 Menghitung Indeks Harga Konsumen
Perhitungan indeks harga konsumen dan laju inflasi oleh Biro Statistika Tenaga Kerja menggunakan ribuan jenis barang dan jasa. Untuk mengetahui dengan jelas bagaimana sesungguhnya data statistika dibentuk, kita dapat mengendaikan sebuah system ekonomi sederhana dimana konsumen hanya mengkonsumsi dua macam barang. Kelima langkah yang dilakukan biro statistika Tenaga Kerja sebagai berikut:
1.      Tentukan isi keranjangnya, langkah pertama dalam menghitung indeks harga konsumen adalah dengan menentukan harga-harga paling penting bagi rata-rata konsumen. Misalnya jika rata-rata konsumen membeli hotdog lebih banyak dari pada hamburger, maka harga hotdog lebih penting dari pada harga hamburger, dan oleh karena itu pula harga hotdog memiliki bobot yang lebih besar dalam perhitungan biaya hidup. Biro Statistika Tenaga Kerja menetapkan bobot-bobot untuk setiap harga dengan cara melakukan survey kepada konsumen untuk mengetahui barang dan jasa yang yang biasa dibeli oleh rata-rata konsumen.
2.      Temukan harga-harganya. Langkah kedua dalam menghitung indeks harga konsumen adalah menetapkan harga setiap barang dan jasa dalam keranjang uantuk sepanjang waktu.
3.      Hitung harga seluruh isi keranjang. Langkah ketiga adalah menggunakan data harga-harga untuk menghitung jumlah harga keseluruhan isi keranjang barang dan jasa dari waktu ke waktu.
4.      Pilih tahun pokok dan hitung indeksnya. Langkah keempat adalah penetapan suatu tahun sebagai tahun pokok, yang digunakan sebagai patokan untuk tahun-tahun lainnya. Untuk menghitung indeks, harga sekeranjang barang dan jasa dalam setiap tahun dibagi dengan harga keseluruhan isi keranjang pada tahun pokok. Kemudian perbandingan ini dikalikan 100. Hasil yang diperoleh adalah indeks harga konsumen.
5.      Hitung laju inflasinya. Langkah kelima sekaligus terakhir adalah menggunakan indeks harga konsumen untuk menghitung laju inflasi (inflation rate), yang merupakan perubahan dalam indeks harga dari jangka waktu sebelumnya.  

2.2 Masalah-masalah dalam perhitungan biaya hidup
Tujuan penggunaan indeks harga konsumen adalah mengukur perubahan-perubahan biaya hidup. Dengan kata lain,  indeks harga konsumen membantu kita mengukur berapa banyak pendapatan yang harus bertambah agar dapat mempertahankan standar hidup. Namun demikan, indeks harga konsumen bukanlah alat ukur yang sempurna untuk menghitung biaya hidup. Secara umum, ada tiga masalah pokok yang sulit diatasi.
Masalah pertama disebut bias subtitusi. Harga-harga tidaklah mengalami perubahan yang sebanding dari satu tahun ke tahun berikutnya. Beberapa harga meningkat lebih banyak dari pada harga lainnya. Para konsumen menanggapi perbedaan perubahan harga ini dengan mengurangi pembelian barang-barang yang harganya meningkat lebih banyak dan menambah pembelian barang-barang yang harganya tidak banyak meningkat atau bahkan mengalami penurunan. Artinya, konsumen akan mengganti barang-barang kebutuhannya dengan barang-barang lain yang harganya lebih murah. Jika indeks harga konsumen menghitung biaya hidup dengan mengansumsikan sekeranjang barang dan jasa tertentu, maka indeks harga konsumen telah mengabaikan adanya kemungkinan subtitusi konsumsi. Akibatnya, indeks ini cenderung menetapkan kenaikan biaya hidup yang terlalu tinggi dari satu tahun ke tahun berikutnya.  
2.3 Deflator PDB versus Indeks Harga Konsumen
Deflator PDB merupakan perbandingan PDB nominal terhadap PDB riil. Oleh karena itu PDB nominal merupakan output saat ini yang dinilai berdasarkan harga pada tahun pokok, deflator PDB mencerminkan tingkat harga saat ini relative terhadap tingkat harga tahun pokok.
Para ekonom dan pembuat kebijakan selalu memantau deflator PDB dan juga CPI untuk mengukur seberapa cepat peningkatan harga terjadi. Pada umumnya kedua statistika ini memiliki persamaan. Namun, ada dua perbedaan penting diantara keduanya.
Perbedaan pertama adalah bahwa deflator PDB mencerminkan harga seluruh barang dan jasa yang diproduksi disalam negeri, sedangkan CPI mencerminkan harga seleruh barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen. Sebagai contoh, bayangkan bahwa harga sebuah pesawat terbang yang diproduksi perusahaan boeing yang dijual kepada air force (angkatan udara AS) meningkat. Meskipun pesawat tersebut merupakan bagian dari PDB, namun tidak termasuk dalam keranjang barang dan jasa rata-rata konsumen. Jadi, kenaikan harga muncul pada deflator PDB tetapi tidak muncul pada CPI.
Sebagai contoh lain, anggaplah bahwa perusahaan Volvo menaikkan harga mobilnya. Karena Volvo dibuat di Swedia. Mobil tersebut bukan merupakan dari PDB AS. Namun,konsumen AS membeli mobil Volvo sehingga mobil ini menjadi bagian dari keranjang barang dan jasa rata-rata konsumen AS. Oleh sebab itu kenaikan harga barang konsumsi impor, seperti Volvo, muncul pada CPI tetapi tidak pada deflator PDB.
Perbedaan pertama antara CPI dan deflator PDB menjadi sangat berarti ketika harga minyak mengalami perubahan. Walaupun AS juga memproduksi minyak, tetapi sebagian besar minyak yang digunakan diimpor dari Negara-negara timur tengah. Akibatnya, minyak dan produk minyak seperti bensin dan minyak tanah menghabiskan lebih banyak anggaran belanja konsumen daripada yang dicatat oleh PDB. Ketika harga minyak naik, CPI akan naik lebih banyak dari pada deflator PDB.
Perbedaan kedua yang tidak terlalu kentara antara deflator PDB dan CPI terletak pada bagaimana harga yang bervariasi diberi bobot sehingga muncul sebuah angka untuk tingkat harga keseluruhan. CPI membandingkan harga pada sekeranjang barang dan jasa pada tahun pokok.hanya sesekali biro statistika tenaga kerja mengganti isi keranjang barang dan jasa tersebut. Sebaliknya, deflator PDB membandingkan harga barang dan jasa yang diproduksi saat ini terhadap harga barang dan jasa pada tahun pokok. Dengan demikian, kelompok barang dan jasa yang digunakan untuk menghitung deflator PDB selalu berubah secara otomatis. Perbedaan ini tidakl;ah penting krtika seluruh harga berubah secara sebanding tetapi apabila harga barang dan jasa yang berbeda berubah dengan jumlah yang beragam, maka pemberian bobot terhadap harga yang bervariasi ini dapat menjadi masalah untuk tingkat inflasi keseluruhan.
Figure 2 menunjukkan laju inflasi yang diukur berdfasarkan deflator PDB dan CPI setiap tahunnya sejak 1965. Anda dapat melihat bahwa sering kali kedua ukuran tersebut berbeda, kita perlu melihat latar belakang angka-anga tersebut dan dapat menjelaskan penyebabnya berdasarkan kedua perbedaan yang baru saja dibahas si atas. Akan tetapi, figure ini menunjukkan bahwa perbedaan antara kedua ukuran ini merupakan suatu pengecualian, alih-alih sesuatu yang normal. Pada akhir tahun 1970-an, baik deflator, PDB maupun CPI menunjukkan laju inflasi yang tinggi, dan pada akhir thun 1980-an dan 1990-an, deflator PDB dan CPI sama-sama menunjukkan laju inflasi yang rendah. 













PENUTUP
KESIMPULAN
     Menuurut sejarah, nilai sesungguhnya yang ada di balik uang tidak pernah stabil. Kenaikan yang terus terjadi dalam tingkat harga keseluruhan telah menjadi suatu hal yang biasa. Sudah jelas bahwa inflasi dari waktu ke waktu telah mengurangi daya beli uang. Oleh sebab itu, setiap kali membandingkan nilai uang, perlu kita ingat bahwa nilai uang sekarang tidak sama dengan nilainya 20 tahun lalu ataupun 20 tahun mendatang. Untuk itu, kita perlu beranjak  lebih jauh dari sekedar masalah pengukuran.Tentu saja, hal inilah yang menjadi tugas kita selanjutnya setelah memahami bagaimana para ekonom mengukur jumlah dan harga dalam ekonomi makro












0 komentar: