Ruk Indarlia #TugasKuliah
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ilmuwan,
ekonom dan detektif mempunyai banyak kesamaan: semuanya ingin menggambarkan apa
yang sedang terjadi didunia sekeliling mereka. Untuk melakukannya, mereka
mengandalkan kombinasi teori dan pengamatan. Mereka membangun teori dalam upaya
menyelami apa yang sedang terjadi. Setelah mengembangkan teori, mereka kembali
ke pengamatan yang lebih sistematik untuk mengevaluasi validitas teori. Hanya
karena teori dan data sesuai dengan apa yang mereka rasakan, Mereka dapat
memahami situasi itu.
Makalah ini membahas jenis-jenis
data yang digunakan untuk menciptakan dan menguji teori-teori makro. Sumber
informasi paling jelas dari perekonomian adalah pengamatan. Ketika anda belanja
anda melihat secepat apa harga meningkat. Ketika anda mencari pekerjaan, anda
mengetahui apakah perusahaan membuka lowongan. Karena kita semua adalah bagian
dari perekonomian, kita merasakan kondisi-kondisi ekonomi pada saat kita
menjalani kehidupan. Pengamatan ini memberi kita petunjuk (clues) pertama
tentang bagaimana perekonomian berjalan.
Statistic ekonomi adalah sumber
informasi yang lebih sistematik dan objektif. Pemerintah secara regular
mensurvei rumah tangga dan perusahaan untuk mempelajari aktivitas ekonomi
mereka, seberapa banyak penghasilan mereka, apa yang mereka beli, berapa harga
yang mereka bayar, dan seterusnya. Dari survey ini, berbagai statistik dihitung
yang meringkas kondisi perekonomian. Statistic ini digunakan oleh para ahli
ekonomi untuk mempelajari perekonomian dan oleh para pengambil keputusan untuk
mengawasi pembangunan ekonomi dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang tepat.
Makalah ini memfokuskan ada 3
statistik ekonomi yang sering digunakan oleh para ahli ekonomi dan para
pengambil keputusan. Produk domestic bruto (gross domestic product, GDP),
menyatakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional pada output barang
dan jasa. Indeks harga konsumen (consumer price indeks, CPI) mengukur tingkat
harga.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan mengukur nilai aktivitas ekonomi?
2. Bagaimana
cara mengukur nilai aktivitas ekonomi?
3. Bagaimana
cara mengukur GDP?
4. Apa
perbedaan GDP nominal dan GDP riil?
5. Apa
saja manfaat yang diperoleh dari mengukur nilai aktivitas ekonomi?
6. Apa
yang dimaksud dengan biaya hidup?
7. Apa
yang dimaksud dengan Indeks Harga Konsumen?
8. apa
saja masalah-masalah dalam perhitungan biaya hidup?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui cara mengukur nilai aktivitas ekonomi.
2. Mengetahui
hal-hal yang meliputi mengukur nilai aktivitas ekonomi.
3. Mengetahui
cara perhitungan GDP.
4. Mampu
membedakan GDP nominal dan GDP riil.
5. Mengetahui
manfaat dari mengukur nilai aktifitas ekonomi.
6. Mengetahui
definisi dari biaya hidup.
7. Mengetahui
definisi dari Indeks Harga Konsumen.
8. Mampu
menganalisa masalah-masalah dalam perhitungan biaya hidup.
Pembahasan
1. Mengukur Nilai Aktivitas Ekonomi
1.1. Produk Domestik
Bruto ( PDB )
Gross national product
Produk Domestik
Bruto ( PDB ) adalah nilai pasar semua barang dan jasa akhir yang diproduksi
dalam perekonomian selama kurun waktu tertentu.
Tujuan PDB adalah meringkas aktivitas
ekonomi dalam suatu nilai uang tertentu selama periode waktu tertentu,
statistik ini biasannya dihitung oleh Biro Analisis Ekonomi setiap tiga bulan.
Ada dua cara untuk melihat statistik ini:
1- Dengan
melihat PDB sebagai pendapatan total dari setiap orang di dalam perekonomian
2- Dengan
melihat PDB sebagai pengeluaran total atas output barang dan jasa perekonomian
1.2.Beberapa Kaidah
Untuk Menghitung PDB
Banyak variabel ekonomi untuk mengukur jumlah sesuatu dalam perekonomian riil,
para ahli ekonomi membedakan dua jenis variabel jumlah.
Jenis Variabel Jumlah:
1. Persediaan
( stock ) adalah jumlah yang di ukur pada titik waktu tertentu
2. Aliran
( flow ) adalah jumlah yang di ukur perunit waktu.

1.3. PDB Riil Versus
PDB Nominal
Para ekonom
menyebut nilai barang dan jasa yang diukur dengan harga berlaku sebagai PDB
nominal. Sedangkan nilai barang dan jasa yang diukur dengan menggunakan harga konstan
berlaku sebagai PDB riil, PDB riil menunjukkan apa yang akan terjadi terhadap
pengeluaran atas output jika jumlah berubah tetapi harga tetap.
1.4. Deflator PDB
Deflator PDB = PDB Nominal/PDB Riil
Deflator PDB mencerminkan apa yang sedang terjadi pada
seluruh tingkat harga dalam perekonomian
1.5. UKURAN
RANTAI-TERTIMBANG PDB RIIL
Kita telah membahas PDB riil dengan asumsi penyederhanaan
bahwa harga yang digunakan untuk menghitung ukuran ini tidak pernah berubah
dari nilai tahun dasarnya. Jika memang demikian halnya, maka semakin lama harga
yang digunakan akan semakin ketinggalan jaman.
PDB
riil seolah-olah sebagai ukuran harga yang tidak pernah berubah-ubah dari nilai
tahun dasarnya, namun sangat tidak tepat bila menilai produksi suatu barang dan
jasa dengan menggunakan harga yang diberlakukan 10 atau 20 tahun yang lalu.
Untuk memecahkan masalah ini Biro Analisi Ekonomi biasa memperbaharui secara
periodic harga-harga yang digunakan untuk menghitung PDB riil ini, kira-kira
setiap 5 tahun, tahun dasar yang dipilih.
Contoh: Harga computer turun secara
dramatis,sementara uang kuliah naik. Ketika menilai produksi computer dan
pendidikan,tidak tepat bila kita menggunakan harga yang diberlakukan sepuluh
tahun atau dua puluh tahun yang lalu
Untuk memecahkan masalah ini,setiap 5 tahun,biro analisis
Ekonomi biasa memperbarui secara periodik harga yg digunakan untuk menghitung
PDB riil.
1.6. KOMPONEN-KOMPONEN
PENGELUARAN
Pos pendapatan
nasional membagi PDB menjadi 4 kelompok pengeluaran:
- Konsumsi (C)
- Investasi
(I)
- Pembelian
pemerintah (G)
- Ekspor
neto (NX)
Jadi,dengan
menggunakan symbol Y untuk PDB,
Y = C+G+I+NX
Konsumsi = terdiri
dari barang dan jasa yang dibeli rumah tangga
Investasi =
terdiri dari barang-barang yang dibeli untuk penggunaan masa depan
Pembelian
pemerintah = barang dan jasa yang d beli oleh pemerintah pusat
Ekspor neto =
memperhitungkan perdagangan dengan negara lain
1.7. UKURAN-UKURAN
PENDAPATAN LAIN
Pendapatan nasional mencakup ukuran-ukuran pendapatan
lain yang agak berbeda dari PDB. Penting untuk memahami berbagai ukuran karena
para ekonom dan media sering memakainya sebagai acuan.
Untuk melihat ukuran itu saling
terkait, kita bisa mulai dengan PDB dan menambah atau mengurangi berbagai
kuantitas. Untuk mendapatkan produk nasional bruto, kita menambah penerimaan
dari pendapatan faktor produksi dari seluruh dunia dan mengurangi pembayaran
dari pendapatan faktor keseluruh dunia:
GNP = PDB + pembayaran faktor dari
mancanegara – pembayaran faktor ke mancanegara
Untuk mendapatkan produk nasional netto (Net National
Product), kita mengurangi depresiasi modal jumlah persediaan pabrik, peralatan,
dan struktur residensial perekonomian yang habis dipakai selama setahun:
NNP = GNP - Depresiasi
Untuk
mendapatkan pendapatan nasional:
Pendapatan Nasional = NNP – pajak usaha
tidak langsung
Pendapatan nasional mengukur berapa banyak pendapatan
yang diperoleh setiap orang dalam perekonomian.
Pos pendapatan nasional membagi pendapatan nasional menjadi 5 komponen:
- Kompensasi
pekerja (71,3%)
- Pendapatan
perusahaan perseorangan (9,5%)
- Pendapatan
sewa (1,4%)
- Laba
korporasi (12,4%)
- Bunga neto
(5,4%)
Beberapa penyesuaian membawa kita
dari pendapatan nasional ke pendapatan perseorangan, yaitu jumlah pendapatan
yang diterima rumah tangga bisnis nonkooperasi

Pendapatan
perseorangan = pendapatan nasional - laba korporasi - kontribusi asuransi
sosial -bunga neto+dividen+transfer pemerintah pada individu+pendapatan bunga
perseorangan
Untuk mendapatkan pendapatan
perseorangan disposable:
Pendapatan
perseorangan disposabel = pendapatan perseorangan - pembayaran pajak + nonpajak
perseorangan
PENYESUAIAN MUSIMAN
Karena PDB riil dan ukuran pendapatan
lain mencerminkan kualitas kinerja perekonomian, para ekonom tertarik untuk
mempelajari fluktuasi kuartal demi kuartal dalam variable-variabel ini. Tetapi
ketika kita mulai melakukannya, muncul sebuah fakta bahwa seluruh ukuran
pendapatan ini menunjukkan pola musiman yang teratur. Output perekonomian
meningkat selama setahun, mencapainya puncak dalam kuartal keempat
(Oktober,November dan Desember), dan kemudian merosot dalam kuartal pertama
(Januari,Februari,Maret) pada tahun berikutnya. Perubahan musim yang teratur
ini sangat penting. Dari kuartal keempat kekuartal pertama, PDB riil menurun
sebesar kira-kira 8%.
Ketika para ekonom mempelajari
fluktuasi dalam PDB riil dan variable-variabel ekonomi lain,mereka seringkali
ingin menghapus bagian dari fluktuasi yang disebabkan oleh perubahan musiman
yang bisa diprediksi. Sebagian besar statistik ekonomi yang dilaporkan surat
kabar disesuaikan menurut musim seasonally adjusted. Ini berarti bahwa data itu
telah disesuaikan untuk menghilangkan fluktuasi musiman regular. Prosedur
statistik yang digunakan terlalu rumit untuk disajikan di sini, tetapi pada
dasarnya prosedur itu mengurangi perubahan pendapatan yang bisa diprediksi
dengan mudah dari perubahan musim. Karena itu, ketika mengamati naik turunnya
PDB riil atau serangkaian data lainnya, harus melihat hal-hal lain diluar
siklus musiman sebagai penyebabnya.
1.8.Manfaat Mengukur Nilai Aktifitas Ekonomi
manfaat yang dapat
diperoleh dari mempelajari Nilai Aktifitas Ekonomi. Adapun manfaat
tersebut sebagai berikut:
a. Dapat
mengetahui/menelaah struktur ekonomi suatu negara.
b. Dapat membandingkan
perekonomian suatu negara, masyarakat bahkan keluarga dari suatu waktu ke waktu
lainnya.
c. Dapat
membandingkan perekonomian antardaerah.
d. Dapat menghitung
atau memperkirakan pendapatan pribadi atau keluarga dalam satu periode
tertentu.
2.
Mengukur
Biaya Hidup
Mengukur
biaya hidup disebut juga dengan Indeks harga konsumen (consumer price index –
CPI) merupakan suatu ukuran atas keseluruhan biaya pembelian barang dan jasa
oleh rata-rata konsumen. Biro statistika tenaga kerja, yang merupakan bagian
dari Departemen Tenaga Kerja, setiap bulannya menghitung dan melaporkan indeks
harga konsumen. Pada bagian ini kita akan belajar menghitung indeks harga
konsumen dan masalah-masalah yang muncul dalam perhitungannya. Kita juga akan
melihat perbandingan indeks Ini dengan deflator PDB. Ukuran lain dari
keseluruhan tingkat harga.
2.1 Menghitung Indeks Harga
Konsumen
Perhitungan
indeks harga konsumen dan laju inflasi oleh Biro Statistika Tenaga Kerja
menggunakan ribuan jenis barang dan jasa. Untuk mengetahui dengan jelas
bagaimana sesungguhnya data statistika dibentuk, kita dapat mengendaikan sebuah
system ekonomi sederhana dimana konsumen hanya mengkonsumsi dua macam barang.
Kelima langkah yang dilakukan biro statistika Tenaga Kerja sebagai berikut:
1.
Tentukan isi keranjangnya, langkah
pertama dalam menghitung indeks harga konsumen adalah dengan menentukan harga-harga
paling penting bagi rata-rata konsumen. Misalnya jika rata-rata konsumen
membeli hotdog lebih banyak dari pada hamburger, maka harga hotdog lebih
penting dari pada harga hamburger, dan oleh karena itu pula harga hotdog
memiliki bobot yang lebih besar dalam perhitungan biaya hidup. Biro Statistika
Tenaga Kerja menetapkan bobot-bobot untuk setiap harga dengan cara melakukan
survey kepada konsumen untuk mengetahui barang dan jasa yang yang biasa dibeli
oleh rata-rata konsumen.
2.
Temukan harga-harganya. Langkah kedua
dalam menghitung indeks harga konsumen adalah menetapkan harga setiap barang
dan jasa dalam keranjang uantuk sepanjang waktu.
3.
Hitung harga seluruh isi keranjang.
Langkah ketiga adalah menggunakan data harga-harga untuk menghitung jumlah harga
keseluruhan isi keranjang barang dan jasa dari waktu ke waktu.
4.
Pilih tahun pokok dan hitung indeksnya.
Langkah keempat adalah penetapan suatu tahun sebagai tahun pokok, yang
digunakan sebagai patokan untuk tahun-tahun lainnya. Untuk menghitung indeks, harga
sekeranjang barang dan jasa dalam setiap tahun dibagi dengan harga keseluruhan
isi keranjang pada tahun pokok. Kemudian perbandingan ini dikalikan 100. Hasil
yang diperoleh adalah indeks harga konsumen.
5.
Hitung laju inflasinya. Langkah kelima
sekaligus terakhir adalah menggunakan indeks harga konsumen untuk menghitung
laju inflasi (inflation rate), yang merupakan perubahan dalam indeks harga dari
jangka waktu sebelumnya.
2.2 Masalah-masalah dalam
perhitungan biaya hidup
Tujuan
penggunaan indeks harga konsumen adalah mengukur perubahan-perubahan biaya
hidup. Dengan kata lain, indeks harga
konsumen membantu kita mengukur berapa banyak pendapatan yang harus bertambah
agar dapat mempertahankan standar hidup. Namun demikan, indeks harga konsumen
bukanlah alat ukur yang sempurna untuk menghitung biaya hidup. Secara umum, ada
tiga masalah pokok yang sulit diatasi.
Masalah
pertama disebut bias subtitusi. Harga-harga tidaklah mengalami perubahan yang
sebanding dari satu tahun ke tahun berikutnya. Beberapa harga meningkat lebih
banyak dari pada harga lainnya. Para konsumen menanggapi perbedaan perubahan
harga ini dengan mengurangi pembelian barang-barang yang harganya meningkat
lebih banyak dan menambah pembelian barang-barang yang harganya tidak banyak
meningkat atau bahkan mengalami penurunan. Artinya, konsumen akan mengganti
barang-barang kebutuhannya dengan barang-barang lain yang harganya lebih murah.
Jika indeks harga konsumen menghitung biaya hidup dengan mengansumsikan
sekeranjang barang dan jasa tertentu, maka indeks harga konsumen telah
mengabaikan adanya kemungkinan subtitusi konsumsi. Akibatnya, indeks ini
cenderung menetapkan kenaikan biaya hidup yang terlalu tinggi dari satu tahun
ke tahun berikutnya.
2.3 Deflator PDB versus Indeks
Harga Konsumen
Deflator
PDB merupakan perbandingan PDB nominal terhadap PDB riil. Oleh karena itu PDB
nominal merupakan output saat ini yang dinilai berdasarkan harga pada tahun
pokok, deflator PDB mencerminkan tingkat harga saat ini relative terhadap
tingkat harga tahun pokok.
Para
ekonom dan pembuat kebijakan selalu memantau deflator PDB dan juga CPI untuk
mengukur seberapa cepat peningkatan harga terjadi. Pada umumnya kedua
statistika ini memiliki persamaan. Namun, ada dua perbedaan penting diantara
keduanya.
Perbedaan
pertama adalah bahwa deflator PDB mencerminkan harga seluruh barang dan jasa
yang diproduksi disalam negeri, sedangkan CPI mencerminkan harga seleruh barang
dan jasa yang dibeli oleh konsumen. Sebagai contoh, bayangkan bahwa harga
sebuah pesawat terbang yang diproduksi perusahaan boeing yang dijual kepada air
force (angkatan udara AS) meningkat. Meskipun pesawat tersebut merupakan bagian
dari PDB, namun tidak termasuk dalam keranjang barang dan jasa rata-rata konsumen.
Jadi, kenaikan harga muncul pada deflator PDB tetapi tidak muncul pada CPI.
Sebagai
contoh lain, anggaplah bahwa perusahaan Volvo menaikkan harga mobilnya. Karena
Volvo dibuat di Swedia. Mobil tersebut bukan merupakan dari PDB AS.
Namun,konsumen AS membeli mobil Volvo sehingga mobil ini menjadi bagian dari
keranjang barang dan jasa rata-rata konsumen AS. Oleh sebab itu kenaikan harga
barang konsumsi impor, seperti Volvo, muncul pada CPI tetapi tidak pada
deflator PDB.
Perbedaan
pertama antara CPI dan deflator PDB menjadi sangat berarti ketika harga minyak
mengalami perubahan. Walaupun AS juga memproduksi minyak, tetapi sebagian besar
minyak yang digunakan diimpor dari Negara-negara timur tengah. Akibatnya,
minyak dan produk minyak seperti bensin dan minyak tanah menghabiskan lebih
banyak anggaran belanja konsumen daripada yang dicatat oleh PDB. Ketika harga
minyak naik, CPI akan naik lebih banyak dari pada deflator PDB.
Perbedaan
kedua yang tidak terlalu kentara antara deflator PDB dan CPI terletak pada
bagaimana harga yang bervariasi diberi bobot sehingga muncul sebuah angka untuk
tingkat harga keseluruhan. CPI membandingkan harga pada sekeranjang barang dan
jasa pada tahun pokok.hanya sesekali biro statistika tenaga kerja mengganti isi
keranjang barang dan jasa tersebut. Sebaliknya, deflator PDB membandingkan
harga barang dan jasa yang diproduksi saat ini terhadap harga barang dan jasa
pada tahun pokok. Dengan demikian, kelompok barang dan jasa yang digunakan
untuk menghitung deflator PDB selalu berubah secara otomatis. Perbedaan ini
tidakl;ah penting krtika seluruh harga berubah secara sebanding tetapi apabila
harga barang dan jasa yang berbeda berubah dengan jumlah yang beragam, maka
pemberian bobot terhadap harga yang bervariasi ini dapat menjadi masalah untuk
tingkat inflasi keseluruhan.
Figure
2 menunjukkan laju inflasi yang diukur berdfasarkan deflator PDB dan CPI setiap
tahunnya sejak 1965. Anda dapat melihat bahwa sering kali kedua ukuran tersebut
berbeda, kita perlu melihat latar belakang angka-anga tersebut dan dapat
menjelaskan penyebabnya berdasarkan kedua perbedaan yang baru saja dibahas si
atas. Akan tetapi, figure ini menunjukkan bahwa perbedaan antara kedua ukuran
ini merupakan suatu pengecualian, alih-alih sesuatu yang normal. Pada akhir
tahun 1970-an, baik deflator, PDB maupun CPI menunjukkan laju inflasi yang
tinggi, dan pada akhir thun 1980-an dan 1990-an, deflator PDB dan CPI sama-sama
menunjukkan laju inflasi yang rendah.
PENUTUP
KESIMPULAN
Menuurut sejarah, nilai sesungguhnya yang
ada di balik uang tidak pernah stabil. Kenaikan yang terus terjadi dalam
tingkat harga keseluruhan telah menjadi suatu hal yang biasa. Sudah jelas bahwa
inflasi dari waktu ke waktu telah mengurangi daya beli uang. Oleh sebab itu,
setiap kali membandingkan nilai uang, perlu kita ingat bahwa nilai uang
sekarang tidak sama dengan nilainya 20 tahun lalu ataupun 20 tahun mendatang.
Untuk itu, kita perlu beranjak lebih
jauh dari sekedar masalah pengukuran.Tentu saja, hal inilah yang menjadi tugas
kita selanjutnya setelah memahami bagaimana para ekonom mengukur jumlah dan
harga dalam ekonomi makro


0 komentar: